Rekan saya Jhon mempunyai karier yang cemerlang karena sangat tegas dalam memimpin. Tidak ada ruang "manja" saat menjadi anak buahnya. "jika kamu semua ingin disayang oleh perusahaan, jadilah karyawan yang selalu manis sampai akhir kariermu, atau kamu menjadi sepah dan dibiuang. Jangan cengeng!!! Memangnya harus diapakan lagi sepah itu jika tidak dibuang?" Suaranya lantang terdengar dari ruang meeting.

Sebagai karyawan, kita tidak seharusnya marah, kalau diperlakukan seperti sepah; jika kenyataannya memang dahulu manis bagi perusahaan dan kini sudah sepah. Karena, kita juga akan membuang sesuatu yang sepah jika memang sudah tidak ada lagi rasa manisnya. Apa mungkin kita menyimpan terus yang sepah di mulut? Pasti kita muntahkan! Ini soal siapa pelaku dan siapa korbannya saja.

Jika kita mengerjakan pekerjaan yang nilainya hanya tiga juta rupiah saja, mana mungkin perusahaan membayar gaji kita lebih dari 3 juta? Semua perusahaan butuh keuntungan, karena mereka bukan panti sosial. Tidak ada tempat bagi karyawan yang tidak produktif. Jika sudah sepah, pasti dibuang.

Kita yang sudah berpengalaman dalam karier, sudah dewasa tentunya untuk bisa menerima kata-kata keras Jhon. Meski membuat telinga panas dan hati mendidih, namun sangat logic dan masuk akal. Kata-kata ini membangun bagi yang telah dewasa, walau bisa juga membunuh bagi karyawan yang masih bermental bayi.

Yang menentukan seorang pribadi sebagai karyawan yang masih manis atau karyawan yang sudah sepah adalah kita sendiri. Beberapa karyawan kontrak yang kontraknya tidak diperpanjang, secara emosional langsung memvonis perusahaan sangat kejam. Akan tetapi seharusnya dia introspeksi diri dengan merenungkan hukum sebab akibat. Karena, tidak mungkin perusahaan memperpanjang atau mengakhiri hubungan kerja tanpa ada dasar.

Lalu, bagaimana agar kita bisa menjadi karyawan yang senantiasa manis?

1. Result Oriented

Jelas bahwa kita karyawan dibayar untuk mengkontribusikan sejumlah hasil, maka teruslah berupaya memperbaiki seluruh proses-proses yang membawa dan memastikan pencapaian hasil yang ditargetkan. Banyak hasil banyak yang dibayar, sedikit hasil sedikit dibayar, tidak ada hasil pasti tidak dibayar.

2. Life Learner

Agar selalu produktif maka kita tidak punya pilihan lain, selain menjadi pembelajar seumur hidup. Tanpa pengetahuan dan keterampilan baru, tidak mungkin diri kita mengeluarkan output yang baik. Investasikan sebagian gaji untuk memperbesar kapasitas produksi dari diri kita. Sangat sedikit orang yang peduli dengan pengembangan diri mereka dan terlalu banyak yang berharap perusahaan yang harus memiliki program untuk mereka.

3. Go Extra Mile

Bangunlah kebiasaan untuk bekerja melebihi ketentuan. Dan, bentuk yang paling sederhana adalah bekerjalah lebih dari 10 Jam sehari hingga Anda memiliki karakter work hard. Saat karakter ini tercapai, pada saat yang sama Anda telah mempunyai keterampilan yang baru yakni worksmart.

4. Team Work

Semua sukses dicapai bersama-sama orang lain, untuk itu kembangkan dengan tekun keterampilan berkomunikasi, berkoordinasi, dan berkolaborasi. Ingat prinsip TEAM atau Together Everyone Achieves More. Masing-masing seorang diri mampu menghasilkan lima, namun saat bekerja sama mampu menghasilkan 50.

5. Create Productive Habits

Dengan tekun, buanglah kebiasaan mengeluhkan beban pekerjaan, mengeluhkan bos. dan mengeluhkan teman-teman. Gantikan dengan kebiasaan baru untuk selalu bersyukur. Tukar sikap selalu membela diri dengan keterbukaan untuk menerima nasihat dan pendapat orang lain. Buang kebiasaan bermain game di kantor, gantilah dengan kebiasaan bersosialisasi dengan karyawan yang produktif.

Karyawan manis PASTI suatu saat akan mendapat kesempatan promosi. Karyawan sepah PASTI suatu saat akan mendapatkan pemutusan hubungan kerja.

Bagaimana dengan Anda?

Mau jadi MANIS? Atau mau jadi SEPAH? Hanya kita sendiri yang menentukannya!!!

Ingatlah, "Sesungguhnya habis manis sepah pasti dibuang"

Previous Post Next Post