"Lebih baik menyalakan lilin daripada mengutik kegelapan." Eleanor Roosevelt
Akhir-akhir ini ketidakpuasan seorang karyawan kepada perusahaan di mana dia bekerja dengan mudah terjadi. Saat berbagai "wants" keinginan gaya hidup telah ditangkap oleh panca indera karyawan sebagai "needs" kebutuhan hidup, maka rezeki Tuhan dalam bentuk gaji bulanan melalui kantor atau perusahaan terasa semakin jauh dari kelayakan hidup. Pada sisi lain, pengetahuan karyawan tentang bagaimana seharusnya perusahaan dijalankan semakin tinggi, sehingga tuntutan karyawan kepada perusahaan semakin meningkat pula. Pada saat kemampuan karyawan menghadapi tekanan kebutuhan hidup mencapai ambang batas. ditambah dengan kesanggupan karyawan untuk menoleransi kecepatan perusahaan dalam berbenah diri mencapai limitnya, di situlah karyawan mulai frustasi.
Jika Anda saat ini bekerja dan tidak puas kepada perusahaan, apa yang dapat Anda lakukan tentang hal itu? Perhatikan reaksi tiga kelompok berikut ini. Mereka menghadapi persoalan yang sama, namun reaksi mereka berbeda satu dengan lainnya.
Kelompok karyawan ini mempunyai kebiasaan menebar benih kekecewaan dimana-mana. Segala bentuk ketidakpuasan kepada perusahaan ditaburkan di setiap meja kerja di mana mereka singgah. Belasan benih ketidak puasan yang tidak terselesaikan telah tumbuh seiring berjalannya waktu menjadi tanaman kekecewaan. Makin hari mereka semakin pandai menemukan kekurangan perusahaan, sehingga lupa bahwa dia telah dibayar lunas setiap bulan untuk ikut membenahi perusahaan. Fungsi "Problem Solver" pada dirinya menjadi mandul, dan tanpa disadari dirinya bahkan telah menjadi "Trouble Maker" atau pembuat masalah bagi peruahaan. Pada fase ini, pandangan positif telah sirna. Semua sisi perusahaan terlihat begitu buruk dan selalu dikomentari dihadapan karyawan lainnya. Semakin banyak teman kantor yang mendengarkan analisisnya, semakin bangga dirinya. Pada akhirnya "tanaman" telah bertumbuh besar menjadi pohon caci maki. Ironis memang, kelompok ini menggunakan mulutnya untuk mencaci maki tanah rezekinya sendiri, sementara setiap bulan tangannya masih terbuka lebar menerima gaji dari perusahaan "buruk" tersebut.
"Sungguh aku tak menyukai kalian menjadi kamum pemngumpat dan pencaci maki". (Sayyidina Ali RA)
Andi, Selvy, dan Jeffry memiliki sikap yang baik. Setiap ketidakpuasan atau kekecewaan terhadap perusahaan dihadapi sendiri, tanpa komentar apa pun. Mengeluh, menabur kekecewaan, apalagi mencaci maki perusahaan tidak ada dalam kamus kehidupan mereka. Mindset mereka meyakini bahwa perusahaan dan kantor yang ada saat ini adalah tempat di mana Tuhan memberikan sumber penghidupan bagi keluarganya, sehingga terlalu banyak mengeluh adalah bentuk ketidakpuasan dirinya kepada Tuhan. Saat kekecewaan menumpuk, yang dilakukannya adalah diam, berdoa, dan pergi untuk menemukan perusahaan yang lainnya. Andi, Selvy, dan Jeffry memiliki tindakan "ksatria", jauh lebih terpuji dari kelompok yang pertama.
Bagi Ratih, lyas, dan Aji, berdoa dan mensyukuri pekerjaan yang ada sekarang adalah modal utama dalam berkarier. Mereka sangat tidak setuju jika ada orang yang terlalu sering mengeluhkan kejelekan atau kekurangan tanah rezekinya sendiri dengan membandingkan kebaikan yang terjadi di luar sana. Kelompok ini meyakini bahwa segala kekurangan, kesemrawutan yang masih terjadi di kantor atau perusahaan adalah tanggung jawab yang diberikan Tuhan kepada mereka untuk diperbaiki dengan sepenuh hati. Fokus kelompok ini adalah bukan pada realitas saat ini. Solusi adalah sasaran utama dari setiap pemikiran yang mereka lakukan. Semua waktu yang ada diisi dengan tindakan-tindakan yang mengarah kepada suatu realitas baru. Dengan sikap-sikap seperti ini, prestasi demi prestasi berhasil diraih, bahkan karier mereka melenggang tanpa hambatan.
Jika kita tidak menyukai tempat kerja saat ini, sebaiknya kita diam, berdoa, dan segera mengundurkan diri. Menceritakan keburukan perusahaan di segala tempat namun masih mau menerima gaji bulanannya adalah sikap yang sangat memalukan. Ingat, kita dibayar oleh perusahaan bukan sebagai komentator, kita dibayar oleh perusahaan untuk memperbaiki hal-hal yang masih kurang. Demikian pula pada skala yang lebih luas. Jika kita merasa Indonesia begitu buruk, mari singsingkan lengan baju, perbaiki Indonesia Tanah Air kita atau pilihan kedua, mari tinggalkan Indonesia dan jangan makan dari hasil buminya. Lebih baik pergi daripada mencaci maki kepada tanah rezeki.
Kepuasan kerja dan ketidakpuasan kerja adalah barometer kemampuan kita menyesuaikan diri di perusahaan. Ketidakpuasan kerja dapat menyebabkan sesuatu yang lebih buruk; kehilangan pekerjaan, kecelakaan kerja, bahkan penyakit mental. Depresi, kecemasan, kekhawatiran, ketegangan, dan masalah interpersonal diakibatkan atau diperburuk oleh ketidakpuasan kerja. Bahkan, kepuasan kerja ditemukan sebagai penyebab utama dari berapa lama kita hidup. Ingat, minimal 10 jam sehari kita terlibat dengan segala sesuatu terkait dengan pekerjaan.
Tinggalkan semua orang yang membawa pengaruh buruk, atau kita menjadi sama buruknya dengan mereka.
Janganlah caci maki keluar dari mulutmu. Karena TUHAN itu Allah Yang Mahatahu, dan oleh Dia perbuatan-perbuatan diuji. (Nabi Samuel)
Sudahkah Anda menjadi "problem solver" bagi perusahaan dan negara? Jika sudah lanjutkanlah!!! Jika belum mulailah sekarang!!!